Tag Archives: First Coin

Jangan Tertelan Mentah

Standar

Ketika kita tidak bisa berkata panjang lebar,

Karena kesekian patahan waktu yang amat terbatas,
Engkau melangkah di antara jalan yang datar,
Dengan hati yang panas..

Sejukkan lah hatimu dengan kelembutan malam,
Guyurkan semua keluh kesah mu dalam hujan,
Hingga luruh terbawa jangan tertahan kelam,
Jangan merugi karena reaksi orang yang engkau selalu telan..

Ingatlah itu..

my-signature-35

Iklan

Cerita Resapan #3

Standar

Red-Umbrella-In-Rainy-Day-wide-i

Ketika dalam hujan,
Di situ terletak dalam kerinduan,
Di antara malam, lampu & kilatan cahaya,
Di antara wangi tanah & merdunya rintik suara..

Aku selalu jatuh cinta,
Pada setiap hujan,
Tanpa perantara,
Yang menemaniku setiap perjalanan..

my-signature-3

Beep Beep Boop!!!Beep Beep Boop!!!

Standar

biibSuara perlahan, semakin kencang
Beep Beep Boop!!!Beep Beep Boop!!!
Suara mengertak kencang diatas kasur, dibuatnya aku tersadar dalam kelip mata yang masih lelah..
lalu.. HENING ..

Beep Beep Boop!!!Beep Beep Boop!!!
15 menit mengingatkan, tangan mencari asal suara

Beep Beep Boop!!!Beep Beep Boop!!!
Beep Beep Boop!!!Beep Beep Boop!!!

Lelah masih berkecamuk, tubuh terasa melayang
Kerongkongan serat, mata bundar dalam kehitaman

Beep Beep Boop!!!Beep Beep Boop!!!
Beep Beep Boop!!!Beep Beep Boop!!!

Arrggghhhh!! mana alarmnya!!!
Beep Beep Boop!!!Beep Beep Boop!!!
Beep Beep Boop!!!Beep Beep Boop!!!

”HENING”
Hancur berkeping-keping
”HENING”

my-signature-35

..TAK SEKEDAR TEORI BERSUARA..

Standar

Kau tak kan pernah tahu apa yang ku mau
Karena dalam diam aku berkata
Dalam sepi aku bercerita

..Tak sekedar teori bersuara..

Tahukah engkau?

Aku bahagia saat pejamkan mata
Aku tenang dalam pelukan malam

Dan engkau tak perlu khawatir,

Aku akan berlari mengejarmu
Aku akan terbang menggapaimu
Dalam rindu yang bersemayam di jiwa
Dalam nyata yang hanya sebentar di dunia
Image

Diam atau Bicara?

Standar

images copy

“Terlontar, setelah sekian lama..
Entah aku harus berdiam atau berbicara..

Kata tidak dapat hapusan kecewa begitu saja
Kalimat tak dapat rubah perlakuan sekenanya”

Diam atau Bicara?

Siang tanpa matahari dan udara menyengat panas dirasakan dikulit ini. Sudah 9 tahun semenjak kejadian lalu, aku tidak pernah lagi bertemu dengannya. Yah, kejadian yang sangat mengecewakan dirinya.. AKu telah berbuat salah, sehingga Ia sulit memaafkan ku, mungkin hingga saat ini.

Aku tengah membaca sebuah fenomena buku bersampul coklat berlatarbelakang pena. Disebuah cafe diantara himpitan jalan raya yang sibuk dengan lalu lalang orang. Diantara gedung-gedung bertingkat di sebuah kota besar di negara jauh di barat bagaian bumi. Sebuah minuman segar dan biskuit diatas meja, didepanku duduk pasangan paruh baya yang sedang bertengkar. Disisi kananku,  sepasang muda-mudi yang asyik berpacaran.

Aku melanjutkan bacaanku.. Sekian lama terpaut karena asyik membaca, aku menyadari..Dari sudut mata, seperti bayangan terpaku disisi kiriku.  Mengenakan kemeja putih dan celana jeans biru?? Aku tak peduli!

1 jam kemudian, sosok itu menghampiri perlahan. Glek! Aku sedikit tersedak saat menikmati minuman segar ditenggorokan.

Ah, tak mau berperasaan buruk ataupun besar kepala. Aku tidak begitu memperdulikan kehadirannya yang sudah berdiri tepat disisi kiriku.
Akupun masih asyik membaca..

“Diandra..”

Ouch!! Dia memanggil namaku!! Dengan sedikit takut, malu campur aduk tak jelas. Aku mencoba menenangkan hati ini. Dag dig dug terdengar keras suara jantungku. Adduuhhh.. kenapa tiba-tiba dia ada disini?? APakah ini sebuah kebetulan atau  disengaja aku tak tahu. Padahal aku ke kota ini sengaja untuk menghindarinya dan berusaha melupakannya….

“Diandra..” Panggilnya lagi.

Alamaakkk.. Tuhan, apa yang harus ku perbuat! Aku berusaha menguatkan hati dan perasaan yang berkecamuk. Perlahan aku mendongak dan melihatnya.. Teduh! Tiba-tiba hujan turun dengan derasnya tetapi aku tetap pada posisi sedari awal, tak berani beranjak.

Dia tersenyum dan berkata : “Senang melihatmu kembali Diandra.. Aku merindukanmu..”

Diam atau Bicara?
Tak berani harap hati untuk berandai
Ternyata ku tahu, dia menunggu waktu untuk menghampiriku kembali
Dia menunggu rindu yang ternyata aku berusaha untuk menguburnya.

Diam atau Bicara?
Aku masih terpaku,
Kejadian lalu masih terbayang di mataku,
Aku yang telah mengecewakan hatinya,
Berani mempermainkannya..
Namun hingga kini, dia tetap setia..

Diam atau Bicara?

my signature 3

 

Aku Mohon : Jangan Bersembunyi Lagi!

Standar

permainanIdeku terjerumus didalam susunan yang harus dipecahkan,
Satu persatu melepaskan nuansa tuk mencapai tingkatan..
Ah, semua tercuri dan terperangkap karena rasa penasaran yang mendalam.

Kini aku harus susah payah bangkit mencari kalimat indah,
yang ingin ku ungkapan dalam khayalan..
Dan mengapa Semakin aku terbuai semakin aku jauh?

Kadang langkah itu harus terhenti,
Sekedar mengumpulkan detak kehidupan agar dapat melanjutkan perjalanan..
Berusaha membuka teka-teki permainan,
Hingga melupakan apa yang pernah kita lakukan..

Ah, namun pecahan susunan itupun memberiku ide,
Tuk menceritakan kisahmu pada puisi ini,
Engkau yang telah mengambil perhatianku sementara..

Maaf.. Aku akan segera kembali untukmu
Aku mohon, jangan bersembunyi lagi..

my signature 3