PART 1 : Ketika kita diingatkan tentang kebaikan, haruskah kita marah?


Hijab“Engkau tertawa hingga segala penjuru dunia mendengarnya. Padahal aku tahu, dihati yang terdalam engkau menyimpan kesedihan dan kegundahan”

“Cerita itu cukup usang didengar, pernahkah engkau melihat : mereka berlomba-lomba agar terlihat bahagia didepan orang banyak. Disisi lain, ada bagian terperih yang mereka sembunyikan. Sebenarnya tidak perlu tertawa hingga rongga mulutmu terlihat. Apalagi terdengar cukup pekak ditelinga yang lain. Cukuplah tersenyum, terangkan hati dan perasaanmu.. Rasakan alam disekelilingmu. Bersyukurlah, engkau dalam keadaan sehat dan berkecukupan tanpa kurang satu apapun.. Itulah kebahagiaan”

Itulah yang aku ingat, perkataanmu tempo hari. Aku seketika tersinggung dan marah.  “Hak apa dirimu mengatakan hal itu didepanku?!” Balasku dengan nada sedikti tinggi.

Lalu dirimu pun menjawabnya dengan ringan, “Karena aku adalah saudaramu.. Aku tak ingin saudariku berperilaku seperti itu. Engkau seorang wanita.. kelak menjadi wanita dewasa yang mengerti akan tugasnya dengan menjaga batas-batas kesopanan sebagai muslimah. Jadilah muslimah yang baik, seorang muslimah yang baik akan meninggalkan perilaku dan perkataan-perkataan tidak bermanfaat…untuk menjaga lisan dari ucapan yang tidak berguna.”

“Seorang muslimah yang baik hendaklah berkata yang diharapkan terdapat kebaikan padanya dan manfaat bagi agamanya. Apabila dia akan berbicara hendaklah dipikirkan, apakah dalam ucapan yang akan dikeluarkan terdapat manfaat dan kebaikan atau tidak? Apabila tidak bermanfaat hendaklah dia diam, dan apabila bermanfaat hendaklah dia pikirkan lagi, adakah kata-kata lain yang lebih bermanfaat atau tidak? Supaya dia tidak menyia-nyiakan waktunya dengan yang tidak bermanfaat itu”

Jleb!!!! Bagai tertusuk hati mendengar kata-katanya.

Lanjut dirimu : “Maukah engkau menjadi muslimah yang memiliki kecantikan dari dalam? Kecantikan bukan dilihat dari merahnya bibirmu karena lipstik, pipimu yang merah karena sapuan kuas. Aku tahu, Setiap wanita senantiasa mendambakan kecantikan fisik. Tetapi ingat, kecantikan dari dalam (inner beauty) adalah hal yang lebih penting daripada kecantikan fisik belaka. Karena, apa gunanya seorang muslimah cantik fisik tetapi tidak memiliki akhlak terpuji. Atau apa gunanya cantik fisik tetapi dibenci orang-orang sekitar karena tindak-tanduknya yang tidak baik. Karena itu, kecantikan dari dalam memang lebih diutamakan untuk menjaga citra diri seorang muslimah.”

Aku tak tahu harus berkata apa, apakah aku harus marah ataupun malu. Tapi pada kenyataannya aku memang malu.. Malu bukan kepada dirimu. Tapi malu kepada Tuhanku..

*Aku masih belajar.. belajar menjadi seorang muslimah yang baik.

my signature 3

~ by nadwie on April 6, 2013.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: