“Mendung”nya Bunga-Lembayung


Begitu menatap Bunga, Lembayung segera megurungkan niatnya untuk bersenda gurau. Bunga terlihat muram, bayangan abu-abu dan mulai menghitam terlihat dalam rautnya. Sepertinya tumpahan bulir-bulir air segera menitik dari sela matanya yang lentik.

“Ia cantik..” Guman Lembayung.
“Terlihat sedih pun Ia masih saja terlihat cantik. Apalagi ketika Ia ceria bak secerah mentari pagi”.

Lembayung adalah seorang gadis belia nan manis, penyuka warna nila dan ungu. Itulah yang mengherankan, sesuai namanya. Sedangkan Bunga, gadis berparas cantik , penyuka warna jingga.

Mereka adalah sepasang sahabat sejak kecil semasa sekolah kanak-kanak, mereka kini telah berusia 18 tahun dan selalu bersama seperti kakak adik.

Hari ini Bunga memang terlihat sedih, Ia baru saja dikecewakan dengan sikap Ayahnya yang keras. Sang Ayah tak ingin mengabulkan permintaan Bunga untuk menuntut ilmu yang lebih tinggi di kota lain yang sangat jauh apalagi harus menyebrang lautan. Maklum saja, desa yang mereka tempati adalah desa kecil di ujung pulau, yang jauh lamanya  sekitar 4 jam menuju kota. Dan di kota tersebut tidak memiliki sekolah tinggi.

Ayahnya menginginkan Bunga untuk tetap dirumah dan membantu pekerjaan orangtuanya diperkebunan. Orangtuanya merupakan salah satu juragan terkaya di desanya. Sungguh!! Sungguh sedih dan marah dalam hati, padahal kedua orangtuanya mampu untuk menyekolahkannya.  Tak habis pikir Bunga dibuatnya dengan sikap Ayahnya. Bunga yang cantik dan juga pintar merasa kecewa.

“Sudah Ayah katakan, Ayah tidak setuju!!”
“Tapi ayah.. Aku ingin sekolah tinggi menggapai bintang sarjana.. Tidakkah engkau mengerti, diantara teman-teman yang lain, hanya aku yang tidak diperbolehkan..”

Ayah terlihat sangat marah, matanya melotot lebar seperti ingin menerkam mangsa bulat-bulat.
“Tidak!! Kuucapkan dua kali:tidak!! Sudahlah, kamu itu anak perempuan. Lebih baik dirumah membantu Ibumu, mengamati dan bertani. lalu menunggu jemputan laki-laki yang akan melamarmu. Itu sudah lebih dari cukup!”

Bunga tak mampu berkata-kata setelah, matanya telah berkaca bagai cermin yang jatuh berserakan. Semangatnya telah patah. Tak terbentuk dengan uraian yang sulit dimaknakan. Hatinya hancur seperti harapannya yang kini menggantung. Cita-citanya lambat laun berlari meninggalkannya, impian dan mimpi-mimpinya..

Lembayung tak mampu berucap untuk menghiburnya. ketika percakapan sengit terjadi antara Bunga dengan Ayahnya, tak jauh Lembayung berdiri diluar mendengarnya. Jantungnya pun ikut berdegup kencang tak kala mendengar suara keras sang Ayah. Bagi Lembayung, Ayah Bunga adalah ayahnya juga, Ia telah menganggap sebagai Ayah yang hilang selama ini disisinya.

Setelah itu, 15 menit terasa hening. Tak lama Bunga menyusul Lembayung diluar pagar, menutup pintu perlahan dan kemudian berlari kecil, menunduk dan terisak.

“Dijaman yang serba modern ini, ternyata masih ada saja orang tua yang kolot” Guman lembayung.

“Ah, Lembayung..” Bunga membuka suara dengan payau.
“Semua hal yang aku bangun dikesadaranku kini haruslah ku buang sia-sia.. Mimpi yang tengah kurajut mulai terlepas benang-benangnya, karena jarumnya telah tumpul dan aku sudah tak bernafsu untuk merajutnya kembali. Aku tak dapat berbuat apa-apa karena perintah Ayah yang harus kuturuti. Ibu pun tak mampu merangkulnya..”

kemudian Bunga terdiam, duduk dan bersandar disebuah batu besar yang teronggok di taman dekat kolam ikan. Cuaca mendukung, angin bertiup kencang.. Semua terasa gelap dan mendung.

Tak lama, hujan pun turun dengan derasnya, sederas airmata yang akhirnya mengalir dari matanya.


“Harapan terkoyak lembut,
Dan hati yang lembut pun tak mampu menjemput:
Cita-cita dan harapan,
Jauh terasa di jalan.

Awalnya aku telah berlari,
Namun tiba-tiba harus segera kuhentikan.
Semangat yang tinggi kini,
Harus terkubur berbelok haluan..

Apa yang harus kulakukan?
Tiada bertepi pikiran yang terus menerawang,
Banyak hinggap bayang-bayang yang terekam,
Karena aku adalah jaman yang diterkam..”

~ by nadwie on November 27, 2012.

2 Responses to ““Mendung”nya Bunga-Lembayung”

  1. Belum sempat menulis panjang, tetapi (maaf) pembukanya bagus sekali, sementara mulai bagian tengah berkurang (sedikit, memang). Bagaimanapun, bakatmu sudah terlihat jelas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: