Coklat kuning keemasan


Apa yang harus kulakukan, ketika kamu berusaha memaksa untuk memasukinya.. Pintu besi berpagar coklat tembaga membentang dihadapan, dengan ukiran emas menghias gemulai disetiap sudut tajam. Rumput hijau menghampar luas dihalaman, pohon oak tua dengan gagahnya menghujam disudut kanan bangunan, daun-daun layu berguguran, matahari bersembunyi dibalik awan yang mulai menghitam disertai desiran angin kuat menerpa diri menandai musim gugur telah dimulai.

Dirimu tak kuasa menahan tangisan, tak kuat hatimu berpisah dengan sang pujaan hati dengan cepat. Selama ini engkau pendam dalam sekali perasaan itu kepadanya.. Yang tak mampu aku menggalinya dan mencoba mencari tahu apa yang sedang terjadi diantara kalian berdua.

Aku adalah saksi bisu, dibalik genggaman tangan kokohmu aku bergayut lemah. Aku dihias begitu indah tapi aku tidak tahu maksudnya.  Dengan mata sayu aku memandang rendah kebawah, tuguhku mengantung ringan dan pandangan hanya bayang-bayang yang kutangkap.

Tak semenit berlalu setelah membuka pintu gerbang yang berderak, engkau segera berlari.. Berlari sekuat engkau mampu melangkahkan kaki.. Akupun terayun-ayun semakin lemah, karena aku merasakan bulir air mata jatuh melewati udara.

Engkau terisak, menghapus dengan tangan sesekali dan terus berlari menuju sebuah pintu kayu dengan dekorasi ukiran tua yang melekat. Lalu engkau mendadak menghentikan langkah, terdiam setelah berada diberanda, tak mampu engkau langkahkan kaki dan terasa gotai, gemetar dan tubuhmu terasa dingin..

Suasana ruang terlihat sunyi dan kemudian terdengar langkah berat kaki yang terseret. Dan terdengar percakapan antara engkau dengan seorang ibu paruh baya, “kamu datang terlambat..” Terdengar sapaan datar dan nada sumbang.

“Maaf, saya berusaha datang dari benua barat setelah mendengar kabar ini”..

Suaramu terdengar lemah, menunduk penuh kedukaan. Tanpa berani menatap ke mata ibu paruh baya itu, apalagi menatap kedalam ruangan yang dipenuhi nyanyian kepedihan.

Dimusim gugur yang datang kini, yang telah engkau nantikan selama ini.. karena engkau harap akan membawa kabar gembira untuknya kepada kekasih hatimu.. Namun apa yang telah didapat? Warna kuning keemasan yang berserak, warna coklat yang berderak, dan angin dingin menusuk yang selalu merebak.. Musim telah berganti, mengganti dengan kedukaan yang sangat mendalam.

“Kekasihmu telah pergi selamanya, terbaring kaku dalam sebuah peti coklat kuning keemasan..
Padahal warna itu warna kesukaanmu dikala musim gugur tiba,
Kekasihmu adalah kesunyian kini dengan tatapan kosong yang tak mampu engkau lupakan..
Perjalanan satu demi satu meninggalkan kekakuan, dingin yang kini melekat ditubuh kekasih hati..
Tangisanmu tak terdengar tapi aku lihat kepiluanmu..
Tersayat habis tanpa luka dengan jiwa yang berdarah..
Karena kecelakaan itu, diawal musim gugur.. Kekasih hatimu telah hilang

Lalu aku terjatuh karena genggaman tanganmu akhirnya melemah. Aku tergeletak tak berdaya, dengan leluasa melihat suasana yang tengah terjadi. Aku berwarna coklat kuning keemasan.. dengan seuntai kalimat indah terselip disaku baju yang aku pakai.  Dan tercium harum bunga yang merona merah segar dimahkotaku.. Didalam putiknya terdapat cincin berlian berwarna putih melingkar dengan indahnya disela-sela kelopak.

Aku tak tahu lagi apa yang harus kulakukan, langit biru mulai terlihat cerah. Aku memakai baju berwarna biru toska dengan warna merah muda menghias, dengan mata indah melihat dunia tanpa mengedipkan dengan pipi memerah.. Di awal musim gugur, coklat kuning keemasan..

~ by nadwie on July 18, 2012.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: