Matahari dan Kemuning


“Bersenandung bersamamu adalah keindahan yang pernah aku miliki
Menikmati lagu alam di samudera luas adalah kegembiraanku bersamamu
Jiwaku luruh saat itu ketika engkau menggenggam erat hingga menusuk sukmaku
Dan senyum serta tawa semesta bersamamu adalah kebahagiaan yang akan ku simpan selamanya untukmu”

Kuning menguning hingga kejinggaan suasana saat itu, Matahari bersembunyi perlahan karena malu. Dibalik rerumputan yang menjulang disalah satu lembah sanubari.

Matahari berbisik dalam hati, “Kemuning yang telah singgah dihati, meranum memerah saat dipandangi olehku. Adakah sebersit dalam sukmanya bertanya tentangku?”

Diantara jiwa yang bergejolak, dibuatnya Ia penasaran dengan sikap kemuning sore itu. Kemuning berbalut sutra berwarna cerah, hanya berdiam dan menunduk..Tak berani menatap tajamnya mata Matahari.

Mereka berdua telah menjalin kisah yang cukup lama, disaat musim gugur lima tahun yang lalu Matahari bertemu dengan kemuning, disudut jalan yang penuh daun-daun berguguran, dihamparan ilalang berterbangan. Saat itu angin meniup sangat cepat disertai udara dingin yang menusuk relung didada.

Matahari jatuh cinta terhadap Kemuning pada pandangan pertama. Pipi Kemuning yang kemerahan, Kemuning yang memiliki mata elok serta senyum yang menyegarkan hingga membuat bunga-bunga enggan melayu dikemudian hari.

Setelah sekian lama dilalui, kenapa Kemuning berperilaku aneh? Ia tidak seceria dahulu, tawanya tak terdengar renyah disaat Matahari melucu.

Kemuning tetap saja berdiam diri, sesekali menoleh tetapi menghadap ke langit, sedetik kemudian Ia menghela nafas berat dibuangnya ke udara, berembun, dingin sedingin hatinya saat ini.

Matahari tak dapat menebak, Ia tidak pandai melantukan jawaban diatas sebuah teka-teki manapun. Bahkan Ia tidak berani beragumen dengan sekenanya, Cuaca sangat tidak mendukung mendengar segala keputusan yang Matahari buat.

Matahari setiap hari hanya menatap syahdu, hangat dan teduh.. Diantara Awan teman-temannya.. Bersama Air yang sesekali menemani Matahari mengawal kebersamaan Matahari dengan Kemuning.

Kuning menguning hingga kejinggaan, Kemuning tetap menunduk sesekali menoleh karena terbawa Angin yang menyapanya. Ia terlihat semakin meredup, karena Ia merasa bersalah.

“Maaf, maafkan aku Matahari.. Maafkan aku karena mengkhianatimu. Karena saat ini hanya Bumi yang membuat diriku mengerti akan arti kehidupan”

~ by nadwie on June 29, 2012.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: