UTI


(1) UTI ; AWAL BERCERITA

“Utiii..jangan melamun!! liat di seberang sana: banyak macam orang melihat tingkah bodohmu itu!!”

“uti, lain kali bersikap normallah. Jangan banyak berpikir polah; diapun mungkin tak banyak pikir untuk kamu. Jalani saja apa inginmu, kejarlah apa yang kamu mau. Diam tak cakap kata. Seribu tulisan tak mampu buat mengerti orang. Cukup dirimu yang tahu itu”

“Uti, dirimu cantik. Jagalah pandanganmu itu, jaga hati tak banyak tingkah. Beda pemikiran itu sudah biasa”

“utiii..jangan kamu berlari-lari. cape aku mengejarmu!Jalan pelan saja, nanti juga sampai. Pelan asal terukur. Dirimu terlalu lincah, larimu terlalu panjang. Mana aku sanggup tuk menggapaimu. Tidakkah kamu inginkan dia? Dia ada dalam peganganmu. Jaga dia sebaik dirimu. Pahami saja, sadurkan tingkahnya dalam ceritamu. satu satu akan bergayut, lama-lama dirimu dapatkan juga”

“Uti..bedah saja otak di kepalamu. Camkan satu perkalimat dalam ucapan.Biarkan orang berlalu lama mengejek badanmu, hatimu jangan sampai terpaut polah buruk padanya”

“Utiii.. jangan terlalu banyak bercakap! Jangan banyak berkata-kata. Semua bosan dengan bicaramu.. kalimat-kalimatmu terlalu penuh dan tak berisi, terlalu teoritis”

“Uti..berhati-hatilah. Adakan perjalanan, Hinggapi niat yang baik pula. Jangan lupakan darat yang kamu jejaki, jangan lupakan langit tempat kamu naungi.”

Uti? itu namaku. Orang mengenalku karena pandai berkata -kata.

Tapi, aku tak pandai cakap,aku selalu dibodohi orang saja. Polahku biasa saja. Umurku belumlah genap 20 tahun. Berjenis kelamin perempuan. Wajah lumayan elok bila di pandang.Namun, Apa yang bisa aku lakukan untuk hidup? Aku mulai menapaki kian mendaki dan meninggi. Aku coba belajar mengerti,Aku mencoba belajar berpraktik. Hidup yang menghidupi.

Siapa aku layaknya? aku mencoba belajar tahu, untuk mengadakan sebuah perjalanan yang tak pernah aku tahu sebelumnya..

Dimulai sekarang!

******

(2) UTI ; DiATAS BUKIT MENORE YANG MERONA

“Bunga.. bunga…
Aku merindukan kelopakmu merekah
Aku merindukan putikmu semerbak
Aku merindukan warnamu merona

Tumbuh di bukit menora
Menari-nari dengan gemulai dengan jiwa
Aku rindu menunggumu di sini
Diantara angin-angin yang menyepi seperti hati ini

Bunga.. bunga…
Aku merindukan kelopakmu merekah
Aku merindukan putikmu semerbak
Aku merindukan warnamu merona..”

Kala itu petang di bawah tepat sang maha surya yang tegaknya menyinari tubuhku yang mungil. Aku berlari-lari kecil meninggalkan jejak yang bertumpuh di tanah yang baru saja basah di singgahi hujan, melewati pematang yang warnanya mulai menguning sambil bernyanyi. Aku berlari kecil dan aku mendaki tergesa hingga aku hampir saja terantuk bongkahan batu yang melintang di jalan setapak dan sambil meneriakan , “menore! Menore!! Aku tak sabar untuk menjengukmu!!”

O, iya Di awal sudahkah aku memperkenalkan diri? Tapi tak apalah ku ulangi perbait kata mengatakan siapa aku disini. Namaku Uti, cukup singkat bukan?. Aku mahasiswi di perguruan tinggi swasta di ujung kepulauan Sumatra, di desa bukit menore tetapi aku menyebutnya bukit merona. Karena di desaku memiliki bukit kecil dengan padang bunga yang dipenuhi bunga-bunga berwarna merah. Aku tak tau persis namanya, yang terjelas warnanya merah dan baunya harum semerbak dengan putik-putik kecil yang terbang jika tertiup lembutnya angin.

Aku memasuki tahun kedua dalam pendidikan yang tampaknya mulai menarik minatku saja. Aku suka dengan dunia sastra, dulunya aku ingin menjadi pelukis dalam dunia seni rupa. Tapi aku tak pernah menyesal, karena yang terpikir dalam benakku saat ini aku adalah pelukis jua, ternyata apa yang aku lihat, aku rasa dan aku sentuh semua kulukis dalam kata kata. Ku coret penuh dalam selembar kertas dan aku gambar dengan kalimat kalimat yang memukau sambil berdendang.

Aku adalah pelukis kecil yang masih haus ketertarikan lelaki. Aku menyukai pemuda yang manis setiap aku tatap sambil menundukan kepala ini. Sayangnya, dia berada bermil jauhnya dariku dan aku tak tau apakah dia menyukaiku saat ini? karenanya lah, kami hanya sebatas teman kecil yang selalu bermain tak kenal lelah hingga akhirnya dia meninggalkan kota ini karena kembali kepada kedua orangtuanya di kota besar di pulau Jawa yaitu Jakarta. Tapi bahagianya aku,jikalau memandang dari jauh saja dan membayangkan sedang apa gerangan dia di sana sudah cukup membuatku tersenyum. Ah, mudah-mudahan saja Tuhan mendengar doaku untuk memberiku seorang laki-laki yang mau menghampiri diriku dengan baiknya menerima aku apa adanya.

Aku termasuk manusia yang pemalu, sepertinya pengidap autis saja, diam dan sibuk dengan dunia kecil yang aku dayungi. Setiap ada tiada dilema aku selalu berlari ke Bukit Menore dan banyak menulis puisi. Walau aku belumlah pandai dalam membolak balikan kata dalam kalimat, tapi aku sangat menikmatinya dalam-dalam. Hingga aku hirup sampai masuk ke paru-paruku dan terus berekspansi di seluruh saraf otakku ini.

Aku tinggal dengan keluarga paman dan bibiku yang masih kental dengan budaya melayu.Memiliki rumah yang sederhana, nyaman nan bersih dan begitu elok pemandangan di luar halaman. Dan aku melihat bentangan bukit Menore yang aku cintai..

“Menore!!!! warnamu yang merona!!!”

Yang di sayang- sayang, Aku tak memiliki sahabat yang bisa aku angkat sebagai teman bercakap lagi. bagiku mereka adalah pengkhianat terbaik yang pernah aku kenal dalam hidupku, mereka tak langsung adalah sebagai pendusta yang tersembunyi di balik cerita cerita dan memiliki topeng yang tak pernah aku sangka . Sahabatku kini hanya bukit menore yang kerap sering aku kunjungi dan buku bersampul biru langit yang kerap aku tulisi.

Aku menyendiri, sepi hinggap dalam setiap lamunanku..membayangkan dirinya tersenyum di hadapanku. “Tuhan, mengapa aku begitu merindukannya..sedang apakah dia saat ini? apakah dia selalu memikirkan jiwa ini yang jauh tak terjangkau?”

Menore!! tidakkah kau mendengar lagu hatiku ini? tiadakah aku ingin bernyanyi merasakan rasa yang selalu mampir dalam benak? Seluruh jiwaku melayang.. tak terkendali membayangkan berlari melewati turbulance di atas awan sana? hingga aku tergoncang bagaikan waktu yang tak sabar aku lalui?

Aku ingin berlari menore, aku ingin mengejarmu!! berlari melawan malam dan bercanda dengan alam.. Aku ingin mencium bau tanahmu, aku ingin memeluk pohon-pohon hijau yang menjulang denganmu.. Menore, tiadakah kamu ingin menemaniku berpetualang??

“Bunga.. bunga…
Aku merindukan kelopakmu merekah
Aku merindukan putikmu semerbak
Aku merindukan warnamu merona

Tumbuh di bukit menora
Menari-nari dengan gemulai dengan jiwa
Aku rindu menunggumu di sini
Diantara angin-angin yang menyepi seperti hati ini

Bunga.. bunga…
Aku merindukan kelopakmu merekah
Aku merindukan putikmu semerbak
Aku merindukan warnamu merona..
Di atas bukit menore..”

Aku masih terus saja bernyanyi menaiki bukitku ini..

******

(3) UTI ; MENULIS SURAT–> UNTUK CALON SUAMIKU KELAK

“Di atas bunga-bunga merah nan merona

Tertiup angin nan sepoi
Aku bercerita kepada alam semesta
Memperjuangkan kelu di dalam hati

Andai dia ada di dalam jiwa
Kelak yang ku tunggu tak kan pergi
Terhadap semua dongeng yang kuciptakan sendiri
Bersama di bukit menore yang selalu menemani..”

Sore yang menganggumkan, aku kembali mengobral kata dalam kertas yang tak berwarna. Spulang dari kelas aku langsung berlari mengejar awan kelabu yang sempat menghias di atas langit. Tiba-tiba aku ingin berkirim surat, entah untuk siapa. Inisialnya pun belum ku ketahui, yang kutahu aku adalah seorang senang menyepi ,bergurau serta banyak cakap dengan alam yang selalu ada di sini.

“Andai dia ada hadir menemani..dan aku sangat merindukan sosoknya ” aku berguman dalam hati. Aku berstatus mahasisiwi, tapi pemikiranku jauh sebelum itu. Banyak andai yang selalu menghias isi kepala, andaikan menikah di usia muda apakah menyenangkan? Ataukah berkarir?Ah, entahlah.. Itu hanya imajinasi sesaat yang mungkin sedikit menyesatkan. Aku harus menyelesaikan sekolahku terlebih dahulu, apalagi aku belumlah mendapatkan pendamping yang sesuai. Kira-kira kiteria apa yang harus ada padanya ya?

“hahaha..ha gila kali aku memikirkan ini.Benar2 Idiot!!! Cinta saja belum dapat ku temukan. Lalu apa arti cinta yang sebenarnya? bukankah cinta tak ada rasa sakit hati? cinta adalah kebaikan? atau?..”

Aku yang keras melebihi watak Bibiku di rumah, hampir setiap hari berdebat tiada henti. Namun akhirnya berakhir dengan tawa yang mendera seisi ruangan akibat kekonyolan yang kami buat sendiri serta polah yang hampir membuat mati berdiri jika melihatnya..Sedangkan Paman hanya terbengong-bengong menyaksikan kami, sepertinya kami ini sedang dalam pertunjukan saja.

Ya, sebersit aku melintas dalam pemikiran. Aku bersyukur memiliki mereka yang menjadi keluargaku kini. Orang tuaku telah menghilang terhapus tsunami. Aku berjuang sendiri kala itu, seminggu terlantar dalam sebuah hutan, tanpa makan dengan perut yang mulai membucit menahan. Minum pun dari hujan yang turun ke bumi sesekali.. Ah, aku tak boleh bersedih lagi. Air mataku sudah hampir habis karena mengenang mereka. Biarkan mereka di atas syurga sana dan mengharap Allah yang akan menjaga keduanya.. Namun, aku merindukan..banyak kali yang aku rindukan saat ini. dan aku bersyair dari kalimat yang ku petik :

“Alangkah indahnya..
Aku bisa melihat kegelapan, terik matahari dan merasakan lapar, bencana, putus asa, penghinaan dan teguran keras. Seperti hewan-hewan dan cabang-cabang pohon itu menghadapinya “
(Walt Hewitmann)

“Sesuatu yang membuatmu bahagia
Tak kan selamanya membahagiakanmu.
Dan tidaklah kesedihan itu bisa:
Mengembalikan sesuatu yang hilang “
(La Tahzan)

Baiklah, aku mulai menggores pena yang kupegang di atas kertas ini :

Untuk calon suamiku kelak..

Aku tak tau bagaimana awal nanti kita bertemu
Aku juga tidak akan pernah tau kelak siapa dirimu

Aku tak pernah berhenti berdoa
Bila kelak Allah mempertemukan denganmu
untuk membawa aku ke tempat yang mulia
Bersisian dan berharap bisa membuatku bahagia

Menikah adalah suatu rencana
dalam mewujudkan cita
Agar mampu menjaga kemurnian dan kesucian cinta
Untuk menjadikan diriku lebih kuat saat ujian dan cobaan datang menerpa
Karena aku percaya akan ada seseorang yang Insya Allah mendampingi senantiasa
Yang kamu perlu tahu, aku adalah wanita biasa
Dan memerlukan dirimu yang mau menerimaku apa adanya
Kelebihan dan kekurangan pastilah aku punya :
Bukanlah manusia sempurna

Tapi, apakah kamu mau menerima?
Untuk mau berbagi banyak cerita..
kadang cerita tidaklah selalu indah dan membuat pipi merona
Kadang cerita tidaklah selalu membuat bahagia

Tapi, apakah kamu mau menerima?
untuk mau berbagi ilmu..
Aku yang masih bodoh, memerlukan banyak nasihat darimu
Aku yang belum pintar, membutuhkan bimbinganmu

Tapi, apakah kamu mau menerima?
Memberikan kepercayaan untuk mengasuh anak-anakmu hingga dewasa
Memberikan kepercayaan untuk mendampingi dirimu saat suka dan duka menyerta
Memberikan kepada wanita yang sedang berusaha
Insya Allah kita akan selalu belajar bersama

Dalam simpuh aku berdoa;
Untuk calon suamiku kelak

Ya Allah,
Jika jawaban itu masih menggantung di langit,
maka turunkanlah..
Jika jawaban itu masih di perut bumi,
maka keluarkanlah..
Jika jawaban itu masih jauh,
maka dekatkanlah..
Jika jawaban itu sulit ku raih,
maka mudahkanlah..

“Kemuliaan hanya akan diberikan kepada mereka yang sabar”
(La Tahzan, Dr. Aaidh ibn Abdullah al-Qarni)

******

(4) UTI ; SAHABAT

Kala itu, tengah malam. AKu tak dapat tidur nyenyak ataupun memejamkan mata. Kepalaku terus berputar berpikir..berpikir dan berpikir.

“Kiranya bagaimana aku bisa membuat hatiku tenang saat ini?”
“Apa yang harus aku lakukan untuk membuat jiwaku mendingin seperti malam?”
“Apa yang membuat pikiran ku terjaga tak jua istirahat tuk malam ini?”

Aku renungkan sekian detik, aku melawan menit menit yang berlalu, aku berjuang untuk jam yang mulai melilit kantuk yang menghilang.

“Tuhan, gerangan apa yang terlintas dalam benak ku?”

Aku tersentak ketika mengingatnya, saat itu juga aku menangis..menangisi sahabatku.. Tidakkah engkau tahu. Aku tak memiliki sahabat? Tapi nyatanya aku menyembunyikan ia. Ia ada tersimpan dalam benakku, aku tak dapat tidur tanpanya..Ketika aku senang, ketika aku sedih ia yang selalu setia menemani, mendengarkan celoteh dan nyanyianku, mengamatiku aku berlagak bak penyair, menantiku ketika aku pulang sekolah..

“Aku rindu..aku rindu Tuhan..
Tatapan bening selalu senantiasa tersenyum padaku
tanpa mengedip selalu memperhatikanku

Aku ingin memeluknya Tuhan..
Aku ingin menciumnya
Aku ingin menyampaikan kepada bintang
Aku ingin mengatakan pada semesta
Aku hampa tanpanya..

Walaupun aku jauh dari sahabatku,
Laksana bumi dan langit yang terkembang tanpa ujung..
Tiadakah mereka melihat kesedihan yang membawa kehidupanku,
Laksana pedang yang siap menggores dengan sobeknya relung..”

Sahabatku telah pergi, meninggalkan jejak yang sangat membekas sampai saat ini. Sahabat satu yang ku miliki, telah habis di makan zaman. Zaman yang selalu membolak balikan fakta, zaman yang menghujani dengan bencana. Zaman yang selalu mengencam, memprotes karena dengki yang menyelimuti, zaman yang selalu mengancam kehidupan yang sedikit demi sedikit habis karena keserakahan..

Sahabatku telah jauh, menyisakan waktu yang selalu kembang kempis karena selalu mengingat masa lalu.Bukankah masa lalu tak lebih dari sebuah mimpi? Sosoknya, elok perangainya..yang selalu menyertaiku kemanapun aku pergi. Ia begitu setia, melebihi batas -batas dunia yang terpampang tanpa kemunafikan.

Sahabatku telah hilang, membawa kenangan dalam sekejap, namun membantuku melahirkan sebuah hakikat untuk terus hidup. Hidup dalam setiap wujud menyambut kemenangan, kesempurnaan, kegembiraan dengan menganggap semua penuh dengan senyuman.

Sahabatku mengajariku senantiasa, dari atas langit ia pun menyaksikan, untuk selalu menghiburku lewat alam ; embun pagi yang menyegarkan, angin meniup dengan riang. Ia selalu menasehatiku melalui malam, seperti kutipan puisi ini:

“Melihat matahari inginnya selalu menebarkan senyuman
Melihat Bulan inginnya mengharapkan pelukan
Merasakan angin inginnya selalu tertawa
Mendapatkan malam inginnya selalu bercerita..”

Kami selalu bercerita, saling berdongeng tentang kerajaan bak penyair, yang terdengar lewat bisikan bintang. Engkau tak pernah tahu sahabatku ini, walaupun ia telah pergi, telah hilang..kemuliaan dan ketenangan selalu diberikannya untukku.

Sebelum pergi ia berkata “Jangan bersedih, kawanku..kesedihan itu panjang dan melelahkan dan engkau harus memalingkan muka dari dunia. Engkau akan segera terhasut dengan fitnah dan celaan para penipu serta bujukan manis para penjilat.Jangan bersedih, aku ada untukmu. Anggaplah aku adalah lembaran yang kau tulis, pena yang engkau genggam, kata yang terlontar dari pikiranmu, kalimat indah yang terbaca jelas mengenai ilmu dan kebaikan. Jangan pernah menganggap sendiri, karena ada kalanya sendiri merupakan uzlah untuk membuat dada menjadi lapang dan mengikis semua kesedihan.”

“Mereka berkata, bagaimana keadaanmu, ku jawab baik.
Satu kebutuhan terpenuhi yang lain tidak,
Jika kesedihan telah menyesakkan dada,
Saya katakan, semoga datang satu hari dengan bantuan,
temanku adalah kucingku, sahabat jiwaku adalah buku-buku,
Sedangkan kekasihku adalah lentera malam”.
(Kutipan syair : Ibnu Faris)

Note : “Uzlah : pengasingan diri. Ber’uzlah dari segala bentuk kejahatan, kemubahan yang berlebihan. salah satunya
ber’uzlah dengan buku; karena orang akan dapat menambah usia, dapat mengulur kematian, dapat meraih kenikmatan
dalam kesendirian, dapat mengembara menuju ketaatan, dapat berjalan-jalan dalam perenungan.”

******

(5) UTI ; DIANTARA PILIHAN : SUAMI ATAU TEMAN HIDUP?

“Di atas bunga-bunga merah nan merona
menghantar senyum di setiap mimpi
Hendak menanyakan tujuan hidup dalam diri
Tuk berikan kepada Tuan Yang Agung yang selalu disisi

Bunga bunga kini bersemi
Bermekaran mengundang angin bermain tari
Setelah sekian lama bernaung dalam inspirasi
Mencari teman yang berdamping dengan hati”

Hari terik menyinari tanah yang kujejaki, sedangkan angin menembus relung membawa hawa kesederhanaan untuk menemani alam. Aku duduk terdiam dan merenung..Di teduhnya pohon tempat aku bersandar. Sambil di pegangnya pena di jemariku dan menghalau hawa panas dengan lembaran buram pada bukuku.

“Tidaklah mengherankan yang di ucapkan salah satu teman bincangku tadi, kami seru membahas tentang diri kami sendiri. Berbincang mengenai mencari teman hidup bukan mencari suami”

“Benarkah demikian? mengapa ia berkata seperti itu? Alasan apa yang bernaung di dalam pikirannya?”

“Semenjak kini aku haus mendalami maksud yang terkandung. Suami? teman hidup? siapakah yang layak diantaranya? Aduh, gilalah aku memikirkanya. padahal beberapa waktu lalu aku sempat menggoreskan pena puisi untuk calon suamiku kelak. Kini, benar-benar yang di katakan kawanku adalah benar. Seharusnya yang kami cari ini teman hidup, bukanlah suami..”

” Apa arti kata teman hidup? apakah adalah benar2 teman dekat, yang sampai akhir hayat akan selalu menemani dan tidak dapat dipisahkan.. Teman yang siap saling membantu jika ada yg perlu dibantu, selalu mendukung, selalu berada disetiap keadaan, meskipun kadang keputusan teman itu bertolak belakang dengan keputusan yang akan kami buat, tetapi teman akan selalu menghormati dan selalu tetap akan mau membantu..Sulitkah mendapatkan teman hidup? yang benar-benar mau mengerti? “

Udara pengap masih menggelayuti awan, matahari masih terlihat amat menyilaukan. Sedangkan kepala ini masih berkutik memikirkan makna dari kata itu.Macam bentangan semesta yang aku baca dengan banyak gambaran- gambaran yang tidak aku baca dalam sebuah buku, luas…begitu banyak arti, sedangkan aku belumlah genap 20 tahun. Kiranya apa yang hendak aku perbuat di dalam hidup, banyak tatanan yang harus segera aku penuhi untuk diriku sendiri. Tapi, aku begitu terjebak oleh keinginan hati yang terus merobek cita-cita.

Aku masih saja merenung: Aku adalah perempuan, diciptakan sedemikian pada kenyataan. Umur semakin berkurang, perbuatan tak berkenan di mata Tuhan pun semakin banyak. Dibawa hendak kemana pikulan dosa ini? Buruk perangaikah aku sebagai perempuan? Bukankah akan banyak perempuan yang masuk kedalam hingar bingar kesesatan dalam jurang jahanam di hari akhir nanti. Masya Allah, aku tak mau sedemikian itu.. Kiranya apa pula kenapa perempuan yang bernasib demikian? Kiranya kami ini tahu yang dimaksud tanpa diberitahu pun.

Namun hendaknya aku segera memohon ampun kepada Tuhan, tiada kata terlambat bila hati mulai terusik untuk menyeru-Nya. Janganlah kami ini semakin gila dengan perhiasan dunia, pakaian minim penuh dekorasi kepalsuan. Menutupi indahnya muka bersolek dengan kata-kata tak bermanfaat.

Bolehkah aku menyendiri sejenak? Ketika harus berbicara dalam hati, Menyambut ketenangan jiwa pada diri, kemudian mulai menggoreskan pena Membuka peluang untuk segera merenung sebagai manusia..

“Aku hanya bisa berdoa, Tuhan untuk memberikan aku bentuk kekuatan dan ketetapan hati. Meminta diberikan jalan hendak tujuan kemana hidup ini. Dan selalu berdoa :
Jika jawaban itu masih menggantung di langit,
maka turunkanlah..
Jika jawaban itu masih di perut bumi,
maka keluarkanlah..
Jika jawaban itu masih jauh,
maka dekatkanlah..
Jika jawaban itu sulit ku raih,
maka mudahkanlah..


“Bila harapan menjadi kenyataan,
Itulah sebaik-baiknya harapan,
Pun, bila tidak menjadi kenyataan,
kita bisa hidup senang dengan harapan.”
(
Aaidh ibn Abdullah alQarni)

******

(6) UTI ; MEMULAI TERPERANJAT HINGGA TERBIASA

“Bukit – bukit nan merona
Hinggap dalam dahan dan bunga
Selalu menghadirkan duri dan harum tertera
Hingga terasa dalam jiwa

Tiadakah lagu mengiringi
Setiap langkah yang kulalui
Aku senantiasa berlari
Menuju sampai ke hati

Elokkah aku bercakap sepi
Mengingat bayang dalam benak sendiri
Menatap senyum sambil menari
Dianggapnya aku ini

Bukit-bukit nan merona
Sediakah meminang lembah terhampar lega
Dengan ketulusan niat menggema
Di seluruh alam semesta”

Kian lama hari merasuk dalam kalbu, aroma hujan tercium dari kejauhan, udara nan sejuk mengikuti dari jalan. Rasa itu semakin menusuk, dalam dan sangat dalam..selalu menggali demikian lega, perlahan mencuri setiap pemikiranku jika lengah.

Waktu terus bergulir, menyisakan rasa dari jiwa yang membawaku ke dalam mimpi. Kiranya aku ini telah terbiasa dengan semua yang di hadirkan. Rasa galau nan rindu, rasa cinta nan ceria, rasa sepi nan terobati. Hari ini adalah hari kedua setelah hujan mengguyur bumi pada bulan kedua pula.

Panen musim kali ini menuai hasil, rupanya mereka  menyegarkan tenggorokan jika menatap hamparan luas sawah dan ladang nan subur. Aku tak sabar menunggu dirinya, aku akan menari di atas  Bukit Menore ditemani angin yang menemani,suara musik : gesekan daun terdengar di telinga dan sautan serangga menyambut lagu merduku ini..

“Bukit-bukit nan merona
Lihatlah kami sedang menari di atas pijakan lembah
Membawakan lagu demikian merdu karena aku bercinta
Bersama tembang tawa ceria demikian renyah

Aku tengah melamun memikirkannya
Dia yang tengah bergayut ditengah kota
Demi menyanjung nama keluarga
Menuntut ilmu dengan gembira

Rasa-rasanya hati sempat berkecamuk tak tahan
Tak terbiasa  sendiri untuk berjalan
Karena waktu belum merestui jikalau bersama
Hendaknya selalu ikhlas menerima”

Aku telah terbiasa, membiarkan angin menemani alam yang menghidupi. Mereka selalu bersendagurau melewati waktu. Entah rasanya yang terpendam begitu lama, menyimpan rasa dan tak ada yang tahu. Menghubungkan hati pada langit dan melepaskan ruh merumput pada bumi. Memulai Terperajat hingga Terbiasa

..Aku mencintainya..

*******

 

 

(7) UTI ; 2 ORANG YANG PERNAH MENYAKITI HATIKU, DATANG MENJENGUKKU LEWAT MIMPI

Mimpi, apa yang engkau anggap sebagai mimpi.
Mimpi apa yang akan dihasilkan,
karena untuk menuju mimpi kita akan mengalami beberapa tahapan.

Untuk mimpi yang terkendali atau mimpi yang kita sadari?
Kita dibatasi oleh keyakinan dan imajinasi yang sebenarnya sulit untuk dikuasai.
Kita bisa memilih sebagai tokoh utama, bermimpi dengan pikiran yang sepenuhnya sadar dan terbangun.
Dengan kata lain, pemimpi menyadari sepenuhnya fakta bahwa ia ada  di dalam mimpi.

Terkendali dan sangat jelas bermimpi.
Di sisi lain, tidak hanya mengacu pada satu kesadaran dalam mimpi,
tetapi juga dapat menjelaskan mimpi secara penuh dan mengontrol dimana pemimpi jelas memiliki
kemampuan untuk melakukan apa pun sehingga ia dapat memilih tema mimpi yang terjadi.

“.. Di bukit Menore, Musim panas telah berganti
Dan aku menjalani bulir-bulir rindu setiap hari
Mengumpulkan dan merangkaikannya bersama mentari
Kemudian  disemayamkan diri di antara warna pelangi

Kini berganti aroma mendung
Membawa langit hitam di penghujung
Menertawakan butiran air yang menghujam bumi
Dan membasahi lamunan di siang hari ..”

Mungkin 2 tahun lalu, aku tak tahu persis waktu kejadiannya. Yang aku ingat, musim memang telah berubah rupa, suhu yang sesekali mengigit kulit semakin lama terasa merangkul dengan halus dan perlahan. kekasih hujan pun telah datang merajuk dengan wewangian khas mendominasi suasana. Kadang kala, merajuk dengan keras namun sesekali merengek dengan lembut dan penuh kasih sayang.

Seperti biasa aku melalui hari, memandang dengan optimisme setinggi langit. Saat itu aku menghabiskan waktu bersama teman-temanku,  kami menikmati suasana di sudut kota kecil di bawah kaki bukit seberang Bukit Menore, ada jalan berpetak, gedung yang sesekali mendongak ke atas. Serta banyak pohon bergaris terang nan sejajar di pinggir jalan, berkumpul dengan dedaunan rindang.

kami pergi berbelanja dan makan malam bersama. Tak ada lilin menghias, hanya bulan menggantung tengah di antara malam. Tak ada kejadian istimewa menghampiri kami, kecuali malam kemarin hingga hati ini dibuatnya hiasan-hiasan indah dan lampu-lampu terang menghantui pikiran di sepanjang jalan. kemarin seorang teman dekat menelponku dari luar kota. Hanya ada perasaan gembira dan hati yang berbunga-bunga. Bagaimana tidak, mendengar suaranya saja membuat  perasaanku ini lari ingin mengejar. Hingga dibuatnya  “Aku jatuh cinta”, aiihh…

“.. Ku ketuk kabu berulang kali,
Menyapa sekedar berita di jiwa
gerangan tanya khabar pikiran asa ..”

Sebentar lagi kami akan saling berjumpa, setelah sekian lama tak bertemu. Karena komunikasi kami hanya terpaut lewat chatting dan telpon selular saja.  Apakah itu cukup??

“.. Dirimu,
membuatku tersenyum di tiap luapan detik dalam deburan hari
Untuk selalu bersenandung setiap hari menyambut matahari ..”

Malam semakin larut, angin semakin menggelayut.. Dingin menusuk hingga kalbu. Ku putuskan untuk kembali ke rumah untuk mengistirahatkan tubuh dan pikiran, setelah seharian menyibukkan diri dengan waktu dan untuk melawan segala kepenatan dalam menjalani hidup.

“.. Rindu yang kerap kali menghampiri
dan mengharap untuk menghadirkan dirimu dalam mimpi
Di setiap waktu tidur malamku sendiri..”

Tak terasa pagi telah datang dan kicauan burung pun terdengar bernyanyi merdu. Menyanyikan kegembiraan hati dan mengingat untuk selalu bersyukur karena telah dianugerahi hari. Namun, aku merasa ada yang aneh tadi malam. Aku bermimpi, tapi mimpi ini seperti kejadian nyata. Aku masih mengingat urutan yang terjadi,urutan sensasi, gambar serta merasakan emosi ketika bermimpi.  Tak ada cerita halusinasi yang berkembang, dan aku menyadari penuh bahwa aku sedang bermimpi saat  mimpi itu tersebut berlangsung, dan aku mampu mengubah lingkungan dalam mimpi serta mengendalikan beberapa aspek dalam mimpi tersebut.

Dan kenapa juga aku memimpikannya ?? dan bukan memimpikan dirimu??

Di dalam mimpi tersebut, tiba-tiba hadir sosok seseorang yang telah lama hilang dari kehidupanku. Aku bermimpi tentang  Aryan.. Ya Aryan,laki-laki yang pernah dekat denganku, tapi itu dahulu. Sekian tahun kami tak pernah berkomunikasi. Setelah kami berpisah, diakhiri hubungan dengan baik-baik saja. Namun belakangan terakhir, karena mengingat ia pernah mengkhianati dan membuat sakit hati. Perasaan negatif itu muncul. Aku menjadi tidak suka dan tak ingin berhubungannya lagi. Aku berusaha untuk memaafkannya, tapi tetap saja perasaan itu muncul kembali  padahal aku tak ingin mengingatnya walau hanya sedetik saja.

Mungkin karena perasaan itu muncul, kemudian ia ingin datang menjengukku. Tak berani ia lewat depan muka, mungkin berpikir untuk mengambil jalan lain yang  setidaknya aku tidak bisa menyadari kehadirannya. Yaitu lewat mimpi.

Di mimpi itulah ia berusaha untuk mendekatiku, tapi aku tidak mau. Aku ingin menghindarinya, aku tidak ingin bertemu dengannya. Di kejadian nyata aku tak pernah berbicara kasar dan kami tidak mengalami pertengkaran hebat setelah apa yang ia perbuat terhadapku. Namun di dalam mimpi, entah kata-kata kasar apa yang terlontar dari mulutku saat itu dan aku mengalami kemarahan dan ketidakpedulian terhadapnya.

Mimpi itu terjadi di hari pertama. Ku pikir adalah mimpi biasa. Tetapi kemudian di hari kedua aku bermimpi lagi dengan suasana yang tidak jauh berbeda. Ia masih saja berusaha untuk mendekati dan tetap saja aku menolaknya.

Hingga hari ketiga..
Aku sadar, ini bukan mimpi yang aku anggap sebagai penghias bunga tidur. Dan aku tahu kalau ia pun merasakan juga perasaan yang ku alami di mimpi tersebut.

“.. Banyak kisah menyelubungi ceritaku
Saat cerita suka dan sedihku
Berganti untuk menyelami makna hidup yang aku ikuti
Tentang kegembiraan dan kesedihan hati ..”

Beberapa bulan berganti, pohon-pohon tengah merinding terkena tiupan angin di siang hari. Sedang asyiknya melayani layar komputer, tiba-tiba terlihat gerak-gerik lampu di telepon selularku. Ternyata ada pesan masuk berupa chatting.

“Humm.. dari Aryan”, gumanku.  Padahal ID-nya sudah ku hapus, baik Facebook maupun Yahoo. Ia menanyakan kabar tentangku, baiklah.. Aku akan membalas pesannya.

Setelah panjang berbasa-basi, ia menanyakan sesuatu kepadaku. “Kenapa kamu membenciku?”, aku tersentak. Aku memang tengah tidak suka padanya, dan tak seorangpun mengetahui hal itu. Ternyata, ia menyadarinya. Ya, berasal dari mimpi itu..

Pembicaraan panjang terjadi, kami saling berdebat. Pertengkaran via Yahoo Mesengger pun terlaksana, kata-kata panjang terlontar cepat, bergantian dan bersahutan. Rasa-rasanya ingin segera mengakhiri saja percakapan ini. Talian penari yang tak akan pernah menari bersama selamanya membuat nilai hati semakin lama semakin menciut saja.

“Maaf, jangan ganggu aku lagi. Jalani saja hidup kita masing-masing..”
“Sebenarnya, tak ada seorangpun tahu mengenai perasaanku kepadamu saat ini .  Aku tahu, kamu mengetahuinya dari mimpi-mimpiku”

“Selamat tinggal”

“… Aku berusaha untuk memaafkanmu
Tapi aku memilih untuk tidak menyentuhmu
Percuma kukeluhkan satu persatu
Tak ada keinginan menyapa mengenai kecemasan darimu untukku

Tali-tali itu mulai putus menyentuh jarum
Melukai segenap relung kecil di duri yang terlempar di dada
Aku ingin menghilang di dalam buah yang mulai ranum
Karena ku ingin petik bunga kembali tapi bukan darimu yang merasa  ..”

.. Jangan melihat ke belakangan dengan kemarahan,
Jangan melihat ke depan dengan ketakutan,
Lihatlah ke sekitar kita dengan kepedulian. (James Thurber)..

..Tetap Berusahalah dan berdoa..

******

Langit bertatap cermin, saat duduk menatap meja dihadapan. Beralaskan kayu, retak dan bermakna. Aku perlahan mengangkat sebuah cangkir di dekat pot bunga. Bunga merah beraroma rempah.. Rasa teh sedikit pahit mulai menyelusuri tenggorokanku, hangat dan berarti.

Aku tengah berguman, memaknai hidup. Mencari dan berpegang, inti dari semua yang hidup dan dihidupi oleh-Nya. Aku bermimpi lagi, tapi bukan tentang Aryan. Semenjak kejadian itu, Ia tak pernah muncul kembali. Khabar terakhir, Ia telah menikah dan di karuniai seorang anak.

Mimpi ini tentang seseorang, namanya Argo. Ia  pernah menyakitiku secara perlahan, menurutku. Ia memang pernah dekat denganku setelah mengalami perpisahan dengan Aryan, dan dari sikapnya aku mengetahui jikalau ia masih seorang diri. Dan mengaku jika ia belum memiliki pendamping.

Seperti pepatah bilang, sepintar-pintarnya  menutupi kebohongan, lambat laun akan terbongkar juga. Entah angin ribut dari mana, aku mendapatkan teror. Disebutkan saja Teror lewat telepon rumah, kebetulan yang mengangkat telepon adalah ibuku. Telepon itu dari seorang perempuan, dimakinya beliau dengan kata kasar, diakunya ia sebagai istri dari teman laki-lakiku yang bernama Argo. Padahal aku tahu, mereka belumlah menikah. Selama ini ternyata Argo mempermainkan perasaanku. Dibuatnya Ibu khawatir terhadapku.

Entah apa yang bisa kuperbuat, hanyalah berdoa..

Namun setelah kejadian itu, kami tetap berkawan baik. Hingga aku putuskan untuk menjauhinya dan mengambil langkah yang bisa membuatku lebih maju dan bahagia. Hilang jejak untuk diriku sendiri.

Sekian lama, waktu bercampur. Tahun pun bergulir memakan hari demi hari, menghabiskan bulan demi bulan. Setelah aku memimpikan sosok Aryan, kemudian aku memimpikan sosok Argo. Sepertinya Ia pun ingin mengetahui tentangku, ia pun datang melalui perantara mimpi. Suasananya seperti dahulu ketika masih berteman. Ia ingin bertemu denganku, tetapi di dalam mimpi tersebut aku menolaknya. Dan aku tak ingin menemuinya.

Begitupun hari berikutnya, 3 hari berturut-turut mempunyai tema mimpi yang sama. Didalamnya pun aku kembali menolak, hingga dalam mimpi pun kami tak pernah bertemu satu sama lain. khabar terakhir yang ku dengar, setahun kemudian ia akhirnya menikah dengan perempuan itu dan telah dikaruniai seorang anak.

Untuk kalian..
Jangan pernah ada  rasa penasaran  tentang khabar jiwaku. Aku baik-baik saja di sini.. Dan aku bahagia dengan kehidupanku saat ini.
Jalani saja hidup kalian, jangan pedulikan aku dengan langkahku.

Aku telah memiliki cinta, yang aku genggam dan aku peluk  untuk selamanya..


..lewat galaxy yang maha luas ku ungkapan dengan senang hati:
ku berikan lewat jutaan bahkan milyaran asteroid,   beribu bintang,
dan embun di pagi hari tanpa diketahui olehmu.
Terima kasih: karena rasa ini ada untukmu..

 ..There’s always going to be people that hurt you, so what you have to do is keep on trusting and just more careful about who you trust next time around..

***To be continued***

*Cerita pindahan dari : Cerpen dan Puisi untuk Nyanyian Malam : Ketika malam, puisi bernyanyi untuk bercerita kepada alam

~ by nadwie on April 6, 2012.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: