SToP StealinG DReaMS


Merupakan judul buku yang ditulis oleh Seth Godin. Dia adalah salah satu penulis laris dari 13 buku yang dikarangnya. Dia menulis tentang pemasaran, penyebaran ide-ide dan  mengelola para konsumen dan karyawannya dengan baik. Buku terakhir berjudul “Poke the Box”. Kamu dapat menemukan di blognya dengan nama “Googling Seth”.

Aku mengetahui buku “Stop Stealing Dreams” ini  dari salah satu temanku di milis, dia menawarkan kesegaran tuk membagi informasi yang bermanfaat untuk kita semua. Agar kita mendapatkan ilmu dan menerapkannya dikehidupan sehari-hari. Ya, itulah salah satu tujuan dari Milis tersebut.

Baiklah, mungkin kalian penasaran apa yang ada di dalam buku ini.
Isi buku ini adalah mempertanyakan relevansi sekolah (dari tingkat dasar sampai tingkat tinggi)  yang ada sekarang. Sistem sekolah yang ada sekarang dimulai sekitar 94 tahun yang lalu (tahun 1918)  dan diciptakan dengan tujuan untuk mencetak kaum pekerja yang dibutuhkan oleh dunia industri.

Untuk jangka waktu tertentu, sistem ini berhasil. Tetapi untuk era sekarang sistem itu dipertanyakan lagi relevansinya. Kita sudah mulai melihat dan merasakan munculnya era post-newspaper, ketika koran  tidak terlalu dibutuhkan karena berita dan informasi bisa diperoleh dengan mudah dan murah di internet.  Sebentar lagi akan datang era post-broadcast TV, ketika siaran TV tidak lagi menarik, dan kita bisa mencari video-video yang berkualitas melalui “web-TV”. Sekarang era post-industrialisasi, post-insitusi, di mana aktifitas bisnis akan lebih banyak didominasi oleh individu-individu yang kreatif, bukan institusi.  Seiring dengan era post-industrialisasi, maka sangat mungkin sebentar lagi adalah era post-sekolah,  post-akademi, post-universitas, karena proses pembelajaran bisa diperoleh dengan mudah dan murah melalui kelas-kelas online. Internet telah berhasil membuat akses terhadap informasi menjadi semakin terbuka, akses yang sebelumnya, tertutup dan hanya dimiliki oleh beberapa institusi sekolah (unggulan).

Lantas apa hubungannya dengan judul “Stop Stealing Dreams”? Sistem sekolah sekarang diselenggarakan dengan konsep penyeragaman. Apakah kalian sadar, selama kita menekuni bidang pendidikan dari tingkat dasar sampai pendidikan tingkat tinggi, kita belajar hal yang sama, padahal belum tentu kita sebagai murid tersebut berminat dan belum tentu yang dipelajarinya kelak diperlukan. Dan karena ditujukan untuk memenuhi kebutuhan industri, sistem sekolah sekarang lebih menghargai murid yang patuh, yang tidak neko-neko. Dengan kata lain potensi murid untuk bertanya hal-hal yang ektrim dan bermimpi hal-hal yang luar biasa, tidak terakomodasi, bahkan cenderung dimatikan oleh kurikulum pendidikan yang ada.

Setiap anak pasti mempunyai sebuah mimpi, mimpi terbentuk dan berubah berdasarkan bagaimana kita tumbuh
dewasa, apa yang telah diajarkan, lingkungan pergaulan dan apa yang dilakukan oleh orangtua kita.

“Sebuah mimpi sulit untuk dibangun tapi mudah untuk dihancurkan”

Sebenarnya apa sih yang diharapkan orangtua terhadap anak-anaknya? Orangtua dibesarkan untuk memiliki mimpi untuk anak-anaknya. Mereka menginginkan anak-anaknya bahagia, penyesuaian, kesuksesan. Mereka menginginkan agar hidup anak-anaknya bermakna dan dapat berkontribusi untuk menemukan stabilitas karena anak-anak cenderung menghindari rasa sakit.

Mimpi mereka untuk mimpi anak-anaknya, impian sekitar tahun 1960 dan 1970 bahkan di tahun 1980an adalah untuk menjadi mahasiswa-mahasiswa yang sukses, belajar di perguruan tinggi terkenal dan mendapatkan pekerjaan yang baik.
Mimpi mereka untuk anak-anaknya adalah rumah yang bagus dan keluarga yang bahagia serta karir yang mantap.

Dan tiket untuk mencapai itu semua adalah nilai yang bagus, sikap yang baik dan perguruan tinggi yang terkenal.
Dan sekarang mimpi itu hilang. Kita mempunyai mimpi, tapi itu tidak jelas bahwa mimpi kita benar-benar ada,
ada mimpi yang tersedia, satu yang sebenarnya lebih dekat dengan siapa kita sebagai manusia, itu lebih menarik dan bermakna, kelebihannya mungkin dapat mempengaruhi dunia dengan cara yang positif.

Ketika orangtua membiarkan mimpi anak-anaknya, mendorong mereka untuk berkontribusi, dan mendorong mereka untuk melakukan pekerjaan yang penting, mereka membuka pintu bagi anak-anak yang akan mengarahkan ke tempat-tempat yang sulit bagi kita untuk dibayangkan. Ketika kita mengubah sekolah menjadi lebih dari sekedar penyelesaian, sekolah untuk pekerjaan pabrik,  orangtua memungkinkan generasi baru untuk mencapai hal yang kita tidak siap untuk menerimanya.

Apa yang kalian pilih di antara kolom A & B ini :
Kolom A :
Kepedulian
Merawat
Berkomitmen
Kreatif
Penetapan tujuan
Jujur
Improvisasi
Tajam
Mandiri
Informatif
Inisiatif
Berinovasi
Pemahaman
Pemimpin
strategi
Mendukung ————> atau Kolom B : Patuh

Jika sekolah didirikan adalah untuk menciptakan sesuatu yang berbeda dari apa yang kita miliki sekarang, dan jika teknologi dan koneksi baru bisa mengubah cara sekolah dan dapat memberikan pelajarannya, itulah saatnya untuk perubahan.

Kadang-kadang para guru (jarang) mengajarkan anak-anak keterampilan, ketika muncul kearah penilaian dan sikap, mereka katakan kepada anak-anak dan orang tua mereka: Anda sendiri yang menentukan semua itu.

Bisakah kita mengajarkan orang untuk peduli?
kita tahu bahwa kita dapat mengajarkan mereka untuk tidak peduli; itu cukup mudah. Tetapi mengingat
perubahan teknologi dan ekonomi besar-besaran yang kita alami, apakah kita harus mengambil kesempatan untuk mengajar agar lebih  produktif dan efektif? Dan dapatkah kita mengajarkan anak-anak untuk peduli tentang mimpi mereka bahwa mereka perlu kepedulian untuk mengembangkan keahlian, pemahaman, dan sikap untuk membuat mimpinya menjadi kenyataan?

Sekolah dipertanyakan, ketika begitu banyak waktu yang terbuang di sekolah, yang seharusnya bisa diisi
untuk mempelajari hal-hal lain yang sesuai minat dan kebutuhan.

Apa yang kita butuhkan dari seorang guru adalah seseorang untuk membujuk kita bahwa kita ingin belajar,
dan seseorang untuk mendorong kita atau menciptakan ruang di mana kita ingin belajar untuk melakukannya lebih baik.

Bahwa bagian dari sekolah yang efektif adalah membantu siswa mengkalibrasi impian mereka. Cukup besar bukan berarti terlalu besar sehingga impian adalah tempat untuk bersembunyi. Mahasiswa yang bermimpi bermain di NBA, membintangi acara televisi, atau memenangkan undian yang dilakukan justru semacam salah satu bermimpi. Ini adalah mimpi yang tidak memiliki kemajuan bertahap yang terkait dengan mereka, tidak ada jalan yang wajar untuk dampak, tidak ada keuntungan yang tidak adil dengan persiapan dengan baik.
Sekolah adalah yang terbaik adalah ketika memberi siswa harapan bahwa mereka tidak hanya akan bermimpi besar, tapi mimpi-mimpi yang mereka dapatkan setiap hari sampai mereka dapat menyelesaikannya, mereka-bukan dipilih oleh proses kotak hitam, tetapi karena mereka bekerja cukup keras untuk menjangkau mimpinya.

Sebelum terlambat, hendaknya anak-anak sekarang diajarkan pelajaran “Kepimpinan” dan “Penyelesaian Masalah”  karena keahlian tersebut semakin dibutuhkan di era yang cepat berubah seperti sekarang, sementara sekolah kurang memberikan perhatian kepada hal tersebut.

Kita dapat memperkuat kecenderungan alamiah setiap anak untuk bermimpi, kita bisa menanamkan gairah
dalam generasi baru, dan kita bisa memberikan anak-anak alat untuk mempelajari lebih lanjut, dan lebih cepat, dalam cara yang belum pernah terlihat sebelumnya. Dan jika orang tua ingin memimpin (atau bahkan membantu, atau hanya jalan keluar dari sebuah masalah, itu bahkan lebih baik).

Ajarkanlah anak bagaimana memimpin, membantu mereka belajar bagaimana memecahkan masalah yang menarik.
Kepemimpinan adalah sifat yang paling penting bagi pemain dalam revolusi terhubung.
Kepemimpinan melibatkan inisiatif, dan di dunia terhubung, tidak ada yang terjadi sampai kalian maju dan mulai, sampai kalian mulai mengemudi tanpa peta yang jelas. Dan sebagai perubahan dunia yang lebih cepat, kita tidak dapat menghargai orang yang sangat merendahkan diri untuk mengikuti instruksi sebelumnya. Semua nilai untuk individu (dan dengan dia milik masyarakat) pergi ke individu yang dapat menggambar peta baru, yang bisa memecahkan masalah yang bahkan kemarin tidak ada .

Ketika kita mengajarkan anak untuk membuat keputusan yang baik, kita mendapatkan manfaat dari hasil keputusan seumur hidup .
Ketika kita mendidik anak untuk mencintai belajar, jumlah belajar akan menjadi tak terbatas.
Ketika kita mengajarkan anak untuk menghadapi dunia yang berubah, dia tidak akan pernah menjadi usang.
Ketika kita cukup berani untuk mengajarkan seorang anak untuk mempertanyakan otoritas, bahkan milik kita, kita melindungi diri kita dari seseorang yang akan menggunakan wewenangnya untuk melawan kita
Dan ketika kita memberikan siswa keinginan untuk membuat sesuatu, bahkan pilihan, kita membuat dunia yang penuh dengan para pencipta.

“Tugas orangtua dan guru adalah jelas: mereka harus keluar dari jalan, bersinar terang, dan memberdayakan
generasi baru  untuk melangkah lebih jauh dan lebih cepat dari generasi manapun yang pernah dimiliki.”

Bagi yang tertarik membacanya secara lengkap, ini tautan untuk mengunduhnya secara cuma-cuma http://www.squidoo.com/stop-stealing-dreams

~ by nadwie on March 18, 2012.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: