Disalah satu sudut kotak jendela kereta api


Aku ingin berbagi cerita :
Akan tetapi maaf ya kalau gaya cerita ini tak seperti gaya para penulis terkenal di dunia hehe he..
Ini adalah kisah nyata tapi bukan kisah lucu yang membuat orang lain tersenyum ataupun tertawa, ini bukan cerita romantisme yang membuat orang lain merasa diawang-awang, ini adalah salah satu kisah pengalamanku waktu jaman kuliah yang mampu membangkitkan pemikiranku selama ini..

Kejadiannya sudah lama sekali, waktu itu masih menjabat sebagai mahasiswi yang menyandang gelar musyafir, yang kerjanya sering bolak-balik antara Malang dan Jakarta, karena aku menuntut ilmu di Institut Teknologi di kota Malang.

Aku pada dasarnya senang sekali mencoba hal-hal yang baru tuk mendapatkan pengalaman yang tentunya baru donk. Salah satu contohnya : ingin mencoba berbagai alternatif alat  transportasi yang ada dari tujuan Malang-Jakarta begitu juga sebaliknya. Dari kereta ekonomi Matarmaja jurusan Pasar Senen-Kota Baru Malang yang memakan waktu sampai dengan 24 jam, kereta Bisnis  Mutiara selatan & Mutiara Utara (Dulu kayaknya namanya bukan Mutiara,tapi namanya?? lupa!!)  jurusan Gambir (Jakarta) – Gubeng (Surabaya) lalu dilanjutkan lagi dengan kereta ekonomi Penataran jurusan Surabaya-Malang, Kereta Bisnis Bangunkarta jurusan Gambir-Jombang kemudian dilanjutkan lagi dengan perjalanan bis dari Jombang ke Malang, Kereta eksekutif Gajayana jurusan Jakarta-Malang. Itu dengan kereta lain halnya lagi dengan bis,  berbagai macam merk bis eksekutif  yang tersedia dari Jakarta-Malang juga di coba yaitu Lorena Karina, Continental, Damri, Pahala Kencana dan lain-lain. Tujuannya ingin merasakan atmosfer yang berbeda di tiap-tiap perjalanan (termasuk menu makanan yang disediakan dari pihak bis eksekutif hehehe..). Dan memang banyak cerita yang terjadi dibalik itu semua..

Suatu waktu ketika liburan telah selesai dan aku harus kembali ke Malang, aku sengaja memilih kereta api jurusan Gambir-Gubeng terlebih dahulu kemudian melanjutkan perjalanan menggunakan bis dari Surabaya menuju Malang. Aku lupa nama keretanya entah itu Mutiara Selatan atau Mutiara Utara (karena mempunyai jalur perjalanan yang berbeda). Mama mengantarku sampai keberangkatan diumumkan di stasiun gambir, saat itu menunjukan jam 14.00 WIB. Aku memilih tempat duduk didekat jendela,dan di sampingku ada bapak setengah baya dengan pakaiannya yang sederhana sudah duduk dan tengah berpamitan dengan seseorang, mungkin umur bapak itu sekitar 50an tahun.

Di tengah perjalanan, Bapak setengah baya itu mengajak kenalan dan akhirnya kita berdua terlibat pembicaraan tentang banyak hal. Bapak ini adalah juga seorang musyafir, beliau ingin pulang ke kampung halamannya di NTB. Di Jakarta beliau hanya menjenguk salah satu sanak saudaranya beberapa hari. Kata Beliau, aku adalah anak perempuan yang sangat berani, sendirian menempuh perjalanan dari Jakarta menuju Malang. Banyak nasihat yang diutarakan, layaknya aku adalah anak perempuannya. Sebenarnya aku tak terlalu suka banyak bicara jika ditengah perjalanan, apalagi dengan orang tak dikenal bahkan sempat beberapa kali kejadian, beberapa orang mengajak kenalan dan Aku memilih berbohong kepada mereka untuk menjawab semua pertanyaan-pertanyaannya sampai mereka bosan dengan sendirinya😛 . Karena Aku lebih senang memandang keluar jendela, sendiri dan melihat pohon-pohon, sawah-sawah, laut serta bulan di malam hari, dan kegiatan orang-orang di luar sana. Serta mengacuhkan semua tawaran pedagang yang lalu lalang di tengah koridor kereta atau lebih baik memilih tidur.

Tapi kali ini tidak, sebenarnya ada perasaan takut dan was-was. Apalagi Beliau sempat menawarkan makanan dan buah-buahan. Tapi akhirnya aku mengambil beberapa buah anggur yang Ia sodorkan sambil berdoa memohon perlindungan dari Allah SWT ( Karena saat itu lagi marak-maraknya pembiusan di tengah jalan).

Malam akhirnya tiba, karena menggunakan kereta bisnis otomatis penyejuk udara yang ada hanya beberapa kipas yang terpasang ala kadarnya di setiap gerbong, dan juga tempat duduk yang tak begitu nyaman dipakai. Aku mencoba tidur sambil duduk dengan kepala bersandarkan jendela. Berapa lama kemudian  Beliau dengan halusnya menawarkan tempat duduknya untuk dipakai olehku, sehingga aku bisa berbaring lega dan tidur dengan nyaman. Beliau memilih berbaring di bawah bangku dengan beralaskan lembaran-lembaran koran, lebih nyaman katanya.

Jam 8 pagi kereta sampai di Gubeng-Surabaya, karena tujuan kita berikutnya sama, kita memilih angkutan umum menuju terminal Purabaya. Setelah sampai diterminal Beliau menawarkan diri mengantarkan aku sampai di pintu bis menuju Malang. Dan aku menerima tawarannya walaupun setelah berulang kali berusaha menolak  dengan alasan tak mau merepotkan dirinya. Setelah berpamitan, mengucapkan terima kasih dan menyalami tangannya, kemudian aku naik ke bis dan duduk manis. Bis yang kutumpangi akan segera berangkat namun tiba-tiba Bapak setengah baya  itu datang lagi mencari tempat duduk yang aku duduki kemudian menyalami tanganku kembali dan  di tangannya itu terselip selembar uang untukku dengan alasan untuk uang jajan, dan akupun berusaha tuk menolaknya lagi , tapi akhirnya menyerah. Aku menerima pemberiannya.. Hanya doa yang dapat kuberikan dalam hati, “Semoga Bapak itu selalu sehat dan selamat sampai di tempat tujuan”..

Aku tidak tahu apakah uang yang dipegang Bapak itu cukup sampai nanti ditempat tujuan atau tidak? Ia tidak terlihat banyak membawa barang bawaan, hanya tas kecil yang diselipkan di bahunya dengan pakaian sederhana yang melekat ditubuhnya.

Ternyata diluar sana masih ada yang peduli denganmu walaupun engkau tidak mengenalnya..

~ by nadwie on March 6, 2012.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: